Laman

Selasa, 10 Mei 2011

CT Scan Abdomen + Kontras

1. PERALATAN COMPUTED TOMOGRAPHY

A. Meja Pemeriksaan dan Gantry
Meja pemeriksaan merupakan tempat mengatur posisi pasien pada saat pemeriksaan. Bentuk panjang, permukaannya berupa kurva dan terbuat dari carbon graphite fiber yang mempunyai nilai penyerap rendah terhadap berkas sinar. Pengaturan tinggi rendah, maju mundur, dari meja pemeriksaan melalui tombol digital yang ditempatkan pada sisi meja pemeriksaan maupun pada gantry. (Anonim, 1986) 

Gantry adalah peralatan CT-Scan yang berbentuk kotak, di tengahnya terdapat terowongan untuk keluar masuknya meja pemeriksaan tegak lurus, namun demikian gantry dapat diposisikan menyudut ke posisi negatif maupun positif kurang lebih 200 terhadap meja pemeriksaan. 
Di dalam kotak gantry berisi tabung sinar X, filter, kolimator, lampu indikator sebagai sentrasi, DAS (Data Acquisifion System) dan detektor juga kipas sebagai pendingin. Pada gantry dilengkapi tombol digital untuk mengatur posisi gantry tersebut (Anonim, 1986). 
B. DAS dan Detektor 
Sinar X setelah menembus obyek diteruskan oleh detektor yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan data. 
Secara garis besar detektor dan DAS berfungsi sebagai : 
1) Menangkap sinar X yang telah menembus obyek. 
2) Merubah sinar X dalam bentuk sinyal-sinyal elektronik. 
3) Menguatkan sinyal-sinyal elektronik. 
4) Merubah sinyal elektronik ke data-data digital 
Macam-macam detektor : 

1) Detektor scintilasi kristal dan tabung pengganda elektron. 
2) Detektor isian gas.
C. Kolimator 
Kolimator pada Computed Tomography terdiri dari dua buah, yaitu :
1) Kolimator pada tabung sinar X, berfungsi : 
  • Mengurangi dosis radiasi. 
  • Pembatas luas lapangan penyinaran. 
  • Memperkuat berkas sinar. 
2) Kolimator pada detektor, berfungsi : 
  • Penyearah radiasi menuju ke detektor. 
  • Mengontrol radiasi hambur. 
  • Menentukan ketebalan pada slice thickness/vaxel.

Pesawat CT-Scan
2. PROSEDUR PEMERIKSAAN

Lokasi untuk abdomen bawah daerah yang diambil dari pemeriksaan CT-umum dimulai dengan slice pertama di process xiphoid diteruskan ke crista illiaca. Untuk pelvis daerah yang diambil pada slice pertama dimulai dengan crista illiaca dan diteruskan ke symphysis pubis. Untuk pemeriksaan abdomen rutin tebal slice umumnya 10 mm. (Bontrager, 2001).
Pada pemeriksaan abdomen rutin dengan serial scanning membutuhkan waktu ± 1 sekon untuk melihat gerakan peristaltik dan proses respirasi. (Bontrager 2001). 

A. Media Kontras
Media kontras dilakukan melalui mulut dan rectum untuk pemeriksaan CT-Abdomen dan pelvis (media kontras rectal digunakan jika media kontras oral tidak dapat masuk ke rectum). Media kontras melalui oral untuk melihat atau membedakan organ pada tractus gastrointestinal.
Media kontras oral diberikan sebelum pemeriksaan. Ada 3 (tiga) tingkatan media kontral oral diberikan pada pasien : 
1) Malam hari sebelum pemeriksaan. 
2) Satu jam sebelum pemeriksaan. 
3) Di tengah-tengah sebelum pemeriksaan. 

Ada 2 (dua) tipe kontras untuk menunjukkan opasitas pada tractus gastromtestinal yaitu barium sulfat suspensions dan water soluble solution (diatrizoate meglumine atau diatrizoate sodium) (Bontrager, 2001). 
B. Irisan Axial Pada Abdomen 

Lima contoh CT irisan axial pada abdomen dengan 10 mm setiap slice. Pertama dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip infus melalui kontras intravena. Persiapan kontras oral dengan water-soluble solution.
1. Irisan Axial 1
    • Irisan axial 1 untuk memperlihatkan bagian atas liver. Liver dibagi menjadi dua lobus, lobus kanan dan lobus kiri.
Irisan Axial 1 (Bontrager, 2001)
Keterangan :
A. Lobus kanan liver
B. Lobus kiri liver
C. Lambung
D. Lambung (fundus dan bagian atas daerah lambung)
E. Spleen
F. Vertebre Thoracal 10 dan Vertebre Thoracal 11
G. Aorta abdominal 
H. Vena Cava Inferior
2. Irisan Axial 3
    • Irisan axial 3 untuk melihat ekor pankreas. Ekor pankreas terletak di depan ginjal kiri.
Irisan Axial 3 (Bontrager, 2001)
Keterangan :
A. Lobus kanan liver dari posterior
B. Kantong empedu
C. Lobus kiri liver
D. Lambung
E. Kolon desenden
F. Ekor pankreas
G. Spleen
H. Bagian atas lobus kiri ginjal
I. Kelenjar adrenal sebelah kiri
J. Vetebra Thoracal 11 – Thoracal 12
K. Vena Cava Inferior 
L. Bagian atas lobus kanan ginjal
3. Irisan Axial 5
    • Irisan axial 5 melihat bagian ke dua duodenum. Kepala pankreas terletak di luar dari duodenum. Jika bagian ke dua duodenum terlihat putih, maka dapat dikatakan tumor pankreas.
Irisan Axial 5 (Bontrager, 2001)
Keterangan : 
A. Lobus kanan liver
B. Kantong empedu
C. Bagian ke dua duodenum
D. Lobus kiri liver
E. Lambung (pylorus)
F. Jejenum
G. Kolon desenden
H. Ginjal kiri
I. Aorta Abdominal
J. Vetebra Lumbal I
K. Vena Cava Inferior
L. Kepala pankreas
4. Irisan Axial 7
    • Irisan axial 7 memperlihatkan bagian tengah ginjal.
Irisan Axial 7 (Bontranger, 2001)
Keterangan : 
A. Inferior lobus liver
B. Pankreas
C. Kandung empedu
D. Kolon (asenden dan tranversum)
E. Jejenum
F. Kolon desenden
G. Renal pelvis ginjal kiri
H. Aorta Abdominal
I. Vetebra Lumbal I 
J. Vena Cava Inferior
5. Irisan Axial 8.
    • Irisan axial 8 adalah 2 cm ke arah bawah renal pelvis pada ginjal dan perjalanan kontras menuju ureter pada ginjal.
Irisan Axial 8 (Bontranger, 2001)
Keterangan : 
A. Inferior lobus liver
B. Kolon asenden
C. Vena Cava Inferior
D. Aorta
E. Jejenum
F. Kolon desenden
G. Ginjal kiri
H. Ureter kiri
I. Vertebra Lumbal 2- lumbal 3
J. Muskulus psoas major 
K. Ureter kanan.
3. PENGOLAHAN FILM
Pengolahan film adalah mengubah bayangan laten yang berbentuk emulasi film selama eksposi diubah menjadi bayangan berbentuk perak melalui proses kimia. (Jenkin, D, 1980)
Pengolahan film secara otomatis adalah proses pengolahan film dengan sistem transportasi film yang dilanjutkan oleh roller yang bekerja dengan kecepatan tatap. Dalam pengolahan film secara otomatis menggunakan konsentrasi larutan dan suhu yang tinggi dari proses manual sehingga waktunya lebih cepat.
4. PROTEKSI RADIASI
Proteksi radiasi untuk pemeriksaan CT-Scan yang harus diperhatikan adalah ruangan pemeriksaan harus tertutup rapat pada saat pemeriksaan berlangsung karena radiasi yang dihasilkan sangat besar dan dinding dari ruangan pemeriksaan maupun ruang operator harus dilapisi timbal agar radiasi tidak tembus. Sehingga akan mengurangi dosis bagi petugas radiologi. (Batan, 1995).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar