Laman

Tuesday, March 20, 2012

CT Kepala Anak-Anak Hydrocephalus


 

Computer Assisted Tomografi  (CAT) atau Computed Tomografi (CT) diperkenalkan sejak tahun 1970 oleh Goldfrey Housfield seorang insinyur dai EMI Limited London dengan James Ambrosse seorang teknisi dari Atkinson Morley’s Hospital di London Inggris Pada tahun 1970 (Balinger, 1995)
CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, computer dan televisi. pada CT-Scan komputer menggantikan perananan film dan kaset. Prinsip dasarnya yaitu tabung sinar-x memutari pasien dan menyinari kemudian masing-masing detektor yang berhadapan dengan tabung.sinar x menangkap sisa-sisa sinar x yang telah menembus pasien. Semua data dikirimkan kekomputer untuk selanjutnya dilanjutkan pengolahan. Hasil pengolahan ditampilkan dilayar monitor dalam bentuk penampang bagian tubuh. ( Rasad, 1992). Keunggulan dari teknologi inilah yang dimanfaatkan untuk dapat memberikan diagnosa yang lebih tepat terutama kelainan-kelainan didalam otak seperti  adanya tumor (Graber, 2002). Kelebihan dari CT-Scan dibandingkan dengan radiografi konvensional adalah dapat membedakan soft tissue, lemak, udara, dan tulang pada irisan crossectional dan dapat direformat menjadi 3 dimensi sehingga terlihat jelas tanpa terhalang oleh jaringan (Grainger, 1992).
Tata laksana pemeriksaan CT-Scan pada pasien bayi atau anak tentu saja berbeda dengan pasien dewasa. Salah satu parameter yang digunakan untuk keakuratan data tersebut adalah ukuran slice thickness. Begitu pula pemeriksaan CT-Scan kepala pada anak menggunakan slice thickness yang tipis yaitu 5 mm (Castillo, 1998).

Cairan serebro spinal

Cairan serebro spinal adalah hasil ekskresi plexus khoroid.  Cairan ini bersifat alkali, bening mirip plasma.  Tekanannya adalah 60 sampai 140 mm air.  Cairan ini disalurkan oleh plexus khoroid ke dalam ventrikel-ventrikel yang ada di dalam otak: cairan itu masuk ke dalam kanalis sentralis sumsum tulang belakang dan juga ke dalam ruang subarakhoid melalui celah-celah yang terdapat pada ventrikel keempat.  Setelah itu cairan ini dapat melintasi ruangan diatas seluruh permukaan otak dan sumsum tulang belakang hingga akhirnya kembali ke sirkulasi vena melalui granulasi arakhnoid pada sinus sagitalis superior.
Fungsi cairan serebro spinalis:
1.      Kelembaban otak dan medulla spinalis.
2.      Melindungi alat-alat dalam medulla spinalis dan otak dari tekanan.
3.      Melicinkan alat-alat dalam medulla spinalis dan otak.


Patologi Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal, disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorpsi, dengan atau pernah disertai tekanan intracranial yang meninggi sehingga  terjadi pelebaran ruangan-ruangan tempat aliran cairan serebrospinal.  Hidrosefalus bukan suatu penyakit yang berdiri sendiri.  Sebenarnya, Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat suatu penyakit atau kerusakan otak. 
Klasifikasi Hidrosefalus cukup beragam, bergantung pada faktor yang berkaitan dengannya.  Berikut ini klasifikasi Hidrosefalus yang sering dijumpai :
  1. Menurut catatan klinik dikenal Hidrosefalus yang manifes (overt Hidrosefalus) dan Hidrosefalus yang tersembunyi (occult Hidrosefalus).  Hidrosefalus yang tampak jelas dengan tanda-tanda klinis yang khas disebut Hidrosefalus yang manifest.  Sementara itu Hidrosefalus dengan ukuran kepala yang normal disebut sebagai Hidrosefalus yang tersembunyi.
  2. Menurut waktu pembentukan, disebut Hidrosefalus kongenital dan Hidrosefalus aquista. Hidrosefalus yang terjadi pada neonatus atau yang berkembang selama intra-uterin disebut Hidrosefalus kongenital.  Hidrosefalus yang terjadi karena cedera kepala selama proses kelahiran disebut Hidrosefalus infantil.  Hidrosefalus aquista adalah Hidrosefalus yang terjadi setelah masa neonatus atau disebabkan oleh faktor-faktor lain setelah masa neonatus.
  3. Menurut proses terbentuknya Hidrosefalus, dikenal Hidrosefalus akut dan Hidrosefalus kronik.  Hidrosefalus akut adalah Hidrosefalus yang terjadi secara mendadak sebagai akibat obstruksi atau gangguan absorbsi CSS.  Disebut Hidrosefalus kronik apabila perkembangan Hidrosefalus terjadi setelah aliran CSS mengalami obstruksi beberapa minggu.
  4. Menurut sirkulasi CSS, dikenal Hidrosefalus komunikans dan Hidrosefalus non-komunikans. Hidrosefalus non-komunikans berarti CSS sistem ventrikulus tidak berhubungan dengan CSS ruang subarakhnoid  misalnya yang terjadi apabila akuaduktus sylvil atau foramina luschka dan magendie tersumbat.  Hidrosefalus komuniians adalah Hidrosefalus yang memperlihatkan adanya hubungan antara CSS sistem ventrikulus dan CSS dari ruang subarakhnoid; contohnya, terjadi bila penyerapan CSS didalam vili arakhnoidalis terhambat.
  5. PseudoHidrosefalus dan Hidrosefalus tekanan normal (normal pressure hydrocephalus).  PseudoHidrosefalus adalah disproporsi kepala dan badan bayi.  Kepala bayi tumbuh cepat selama bulan kedua sampai bulan kedelapan.  Sesudah itu disproporsinya berkurang dan kemudian menghilang sebelum berumur 3 tahun.  Hidrosefalus tekanan normal ditandai oleh pelebaran sistem ventrikulus otak tetapi tekanan CSS dalam batas normal.

Teknik Pemeriksaan CT – Scan Kepala Pada Anak
a.               Indikasi Pemeriksaan
a).        Penyakit bawaan (kelainan congenital)
b).        Kejang
c).        Peredaran darah yang tidak normal
d).       Tumor
e).        Inflamasi
f).         Kelainan pada sumsum tulang belakang (system saraf)

b.              Persiapan pemeriksaan

1.      Persiapan pasien
Tidak ada persiapan khusus bagi penderita, terlebih dahulu suhu badan dari bayi/anak diukur, biasanya digunakan obat sedatif (penenang), menggunakan pangganjal dari spon yang halus diletakkan di bawah kepala sebagai immobolisasi, serta meeelepsakan benda-benda asesoris yang mengandung logam, karena akan menyebabkan artefak. Untuk kenyamanan pasien mengingat pemeriksaan dilakukan pada ruangan ber-AC sebaiknya tubuh pasien diberi selimut.

2.      Persiapan alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan untuk pemeriksaan CT – Scan kepala dibedakan menjadi dua, yaitu :
a)      Peralatan steril
1)      Alat-alat suntik
2)      Spuit
3)      Kasa dan kapas
4)      Alcohol
b)      Peralatan nonsteril
1)      Pesawat CT – Scan
2)      Anastesi dan obat sedatif (penenang)
3)      Tabung oksigen

3.      Teknik pemeriksaan
a)      Posisi pasien      : supine diatas meja pemerikasaan dengan posisi kepala dekat denagan gentry.
b)      Posisi objek       : kepala hiper fleksi dan diletakkan pada head holder. Kepala diposisikan sehingga mid sagital plane tubuh sejajar dengan lampu indicator longitudinal dan interpapillary line sejajar dengan lampu indicator horisontal. Lengan pasien diletakan diatas perut atau di samping tubuh. Untuk mengurangi pergerakan dahi dan tubuh pasien sebaiknya difiksasi bengan sabuk khusus pada head holder dan meja pemeriksaan.

c)      Scan parameter
a.           Scanogram        : kepala lateral
b.          Range                : range I dari basisi cranii sampai pars petrosus dan range II darei pars petrosus sampai vertek.
c.           Slice thickness   : 2-5 mm (range I) dan 5-10 mm (range II).
d.          FOV                  : 24 cm
e.           Gentry tilt         : sudut gentre tergantug pada besar kecilnya sudut yang terbentuk oleh orbito meata line (OML) dengan garis vertical.
f.           Kv                     : 120
g.          mA                    : 130
h.          Reconstruction algorithm : soft tissue.
i.            Window Width  : 0 – 90 HU ((otak supratentorial)
: 110 – 160 HU (otak pada fossa posterior)
: 2000-3000 HV (tulang)
j.            Window Level  : 40- 45 HU (otak supratentorial)
: 30-40 HU otak pada fossa posterior
: 200-400 HU (tulang)

SARAN
Berdasarkan hasil pengamatan, pemeeriksaan CT-Scan kepala pada bayi mengguankan slice thickness 10 mm. Bahwa penggunaan foto CT-Scan pada bayi menggunakan slice thickness 10 mm sudah bisa mendapatkan gambaran yang baik, karena sudah menentukan diagnosa dokter.

No comments:

Post a Comment