Laman

Tuesday, March 20, 2012

Prosedur Pemeriksaan Scintigrafi Hepatobilier


 Pengertian
Pengertian Scintigrafi adalah  teknik yang menggambarkan secara grafis distribusi radioaktivitas didalam organ / seluruh  tubuh. Pemeriksaan scintigrafi  hepatobilier merupakan pemeriksaan yang tepat untuk mendiagnosa atresia bilier yang berguna untuk melihat sistem bilier ekstra hepatik dengan menggunakan radiofarmaka 99m Tc – IDA dengan cara dimasukkan melalui intravenous (Baum, 1981).
Pemeriksaan imaging hepatobilier scintigrafi  bertujuan untuk mengetahui uptake pada hepar, sistem bilier dan usus sehingga dapat digunakan untuk membedakan atresia bilier dari kolestasis oleh karena non obstruksi (Majalah Radiologi Indonesia, Th X, No 1, 2002).
Pemeriksaan yang dapat dipakai sebagai tambahan informasi yaitu dengan CT-Scan untuk mengetahui anatomi parenkim hepar dan struktur ekstra hepatik namun tidak banyak informasi yang didapat.Pemeriksaan USG juga berguna dalam mendiagnosa dan mengevaluasi neonatal hepatobilier karena dapat mengidentifikasi sistem bilier terutama untuk melihat bentuk dan kontraksi kandung empedu (Naomi P, Fred S, 1984)
2.         Indikasi
Menurut  Ballinger,1995 :
a.          Kolesistitis akut atau kronik
b.          Kebocoran sistem biliaris
c.          Obstruksi traktus biliaris dan membedakan ikterus obstruksi dari non obstruksi
d.         Atresia biliaris
e.          Deteksi refluks cairan empedu kearah gaster

Persiapan pemeriksaan
a.          Persiapan pasien
1)         Pasien puasa selama 2-4 Jam sebelum injeksi radiofarmaka dengan tujuan supaya kandung empedu mengembang dengan baik
2)         Pasien Neonatus dianjurkan pemberian phenobarbital  5mg/kg/hr  selama 5 hari sebelum pemeriksaan ditujukan untuk menambah ekskresi bilier oleh isotop
b.          Persiapan alat dan bahan
1)         Radiofarmaka Tc-99m IDA
2)         Jarum spuit ukuran 3 cc
3)         Kapas alkohol
4)         Plester
5)         Detektor gamma kamera dengan kolimator LEHR (Low Energy High Resolution), energi setting 140 Kev window wide 20%.
6)         Kaset dan film ukuran 18x24 cm.
c.          Persiapan Radiofarmaka :
99m Tc – IDA, dosis 2-4m Ci diberikan intra vena melalui vena mediana cubiti. Dengan menggunakan  spuit 3 cc, suntikkan eluat Tc 99m dengan volume sesuai petunjuk tiap-tiap kit, (maksimal aktivitas 50 m Ci). Sebelum mencabut spuit dari vial, hisap udara kedalam spuit sesuai volume injeksi. Goyang atau bolak-balik vial selama 10 detik untuk penandaan kit dengan Tc 99m (IDA). Ukur aktivitas, volume dan tuliskan pada etiket vial beserta saat pengukuran. Biarkan 20 menit sebelum injeksi. Preparat ini dapat disimpan pada suhu 2o-20oC. Penggunaan maksimal 6 jam setelah selesai elusi. Radiofarmaka 99m TC IDA 5 mCi yang diambil dengan cara elusi dari generator, 99m TC kemudian diukur dengan dose kalibrator sampai dihasilkan jumlah yang diinginkan.
 
EVALUASI GAMBARAN :
a.          Dalam keadaan normal penangkapan maksimal radiofarmaka oleh hati dicapai dalam waktu 5 menit, kemudian akan terlihat duktus sistikus, duktus biliaris komunikus dan kandung empedu  terlihat penuh 30-40 menit setelah penyuntikan.
b.          Pada kolesistitis akut, kandung empedu tidak akan terlihat sampai pencitraan pada 4 jam kemudian, sedangkan hati dan duktus biliaris komunikus tampak normal.
c.          Pada kolesistitis kronis, kandung empedu biasanya baru akan terlihat pada pencitraan 2 jam kemudian  atau 4 jam kemudian
d.         Pada atresia, duktus biliaris akan terlihat terhenti pada ketinggian atresia, radiofarmaka akan diekskresikan melalui ginjal, sehingga pada pencitraan akan tampak jelas penangkapan radioaktivitas di kedua ginjal.
e.          Bila terjadi refluks, aliran radiofarmaka akan tampak berjalan kearah cranial (masuk ke duodenum pars transversum bahkan bisa ke gaster menimbulkan bile gastritis).
f.           Untuk menentukan kebocoran sistem traktus biliaris pencitraan dilakukan sampai 4 jam , kemudian dilakukan pencitraan ulangan pada 12 dan 24 jam setelah penyuntikan (Baum, 1981).
 
Proteksi Radiasi pada pemeriksaan scintigrafi hepatobilier terhadap petugas, pasien, perawat dan lingkungan sekitar.


Untuk perawat seperti halnya petugas yang mempersiapkan dan memberikan radionuklida, keselamatan radiasi didasarkan pada dipenuhinya nilai batas yang diizinkan. Mengingat bahwa sebagian besar waktunya berhubungan dengan pasien, perawat akan berhadapan dengan bahaya radiasi eksterna dan juga menghadapi resiko kontaminasi terutama kulit sebagai akibat dari berbagai peristiwa yang mungkin terjadi pada waktu merawat pasien dan waktu membuang ekskreta yang terkontaminasi, maka perawat harus lebih berhati-hati didalam menangani pasien yang menggunakan radioaktif. Hal tersebut belum begitu diperhatikan mengingat pengetahuan tentang proteksi radiasi yang masih sedikit.
Sebaiknya untuk perawat dianjurkan mengenakan sarung tangan ketika membuang ekskreta maupun mengangkat linen yang terkontaminasi, kemudian dimasukkan kedalam kantung plastik dan disimpan sampai aktivitasnya hampir habis meluruh, dan perawat tidak boleh berlama-lama dalam menangani pasien dan sedapat mungkin jauh dari pasien sebagai proteksi terhadap bahaya radiasi eksterna.

No comments:

Post a Comment