Laman

Tuesday, March 20, 2012

CT SPN

 


Anatomi Sinus Paranasal
Sinus paranasal merupakan rongga yang berisi udara yang dilapisi oleh membran mukosa yang berada disekitar rongga hidung. Rongga udara yang mengisi sinus paranasal biasanya disebut dengan accessory nasal sinus. ( Bontrager, 2001)
Sinus paranasal dibagi menjadi 4 kelompok menurut letak tulang, yaitu sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoidalis. Sinus maksilaris termasuk bagian dari tulang wajah sedangkan frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis dimasukkan ke dalam golongan tulang cranium.(Kelley dan Petersen, 1997)
Sinus paranasal mulai mengalami perkembangan pada fetus, tetapi hanya sinus maksilaris yang memperlihatkan suatu rongga yang perkembangannya begitu terbatas. Sinus frontalis dan sinus sphenoidalis mulai tampak pada gambaran Radiografi pada umur 6 – 7 tahun. Sinus ethnoidalis adalah sinus yang mengalami perkembangan paling terakhir dibandingkan yang lainnya. Semua sinus paranasal mengalami perkembangan secara maksimal pada akhir masa remaja. Masing-masing bagian sinus akan dipelajari, dimulai dari sinus yang paling besar, yaitu sinus maksilaris.



Sinus Maksilaris 
Sinus maksilaris merupakan sinus yang paling besar. Dulu istilah yang digunakan untuk sinus maksilaris adalah “antrum” singkatan dari “Antrum of High More”. Masing-masing sinus maksilaris memiliki bentuk yang menyerupai suatu pyramid bila dilihat dari anterior, bila dilihat secara lateral sinus maksilaris lebih nampak seperti kubus.
Sinus maksilaris memiliki dinding tulang yang sangat tipis bagian bawah dari sinus maksilaris superposisi dengan bagian bawah tulang nasal. Bila dilihat pada bagian bawah sinus maksilaris adalah terlihat beberapa coni celekations berhubungan dengan gigi molar 1 dan 2 bagaian atas. Ada kalanya batas bawah sinus maksilaris mengalami perforasi atau mengalami perlobangan dan mengakibatkan terjadinya infeksi pada gigi, mempengaruhi bagian molar dan premolar dan merambat naik ke sinus maksilaris.
Semua rongga sinus paranassal saling berhubungan dengan lainnya dan berhubungan juga dengan rongga hidung, yang mana dibagi menjadi dua ruangan yang sama atau disebut dengan fossa. Pada kasus sinus maksilaris lokasi penghubung antara nasal dan maksilari merupakan permukaan masuknya ke muiddle nasal meatus dan kemudian diteruskan ke superior medial aspek dari rongga sinus itu sendiri.

Sinus Frontalis
Sinus frontal berada diantara bagian dalam dan luar os frontal, ke posterior membentuk glabela dan jarang berbentuk sebelum umur 6 tahun. Sinus frontalis pada umumnya dipisahkan oleh septum yang menyimpang dari satu sisi dengan sisi yang lainnya, dan menghasilkan satu rongga tunggal. Bagaimanapun rongga yang ada memiliki bermacam-macam ukuran dan bentuk. Biasanya pada laki-laki ukuranya lebih besar dari wanita. (Bontrager, 2001)

Sinus Ethmoidalis
Sinus ethmoidalis adalah termasuk didalam masses lateral atau labirin dari tulang ethmoid. Rongga udara sinus ethmoidalis dikelompokkan menjadi anterior, middle dan posterior collections, tetapi semua yang ada diatas tidak saling berhubungan. (Bontrager, 2001)

Sinus Sphenoidalis
Sinus sphenoidalis berada didalam bodi tulang sphenoid yang berada dibawah sela tursika. Bodi dari tulang sphenoid terdiri dari sinus yang berbentuk kubus dan dibagi oleh suatu sekat tipis untuk membentuk dua rongga. Septum dan sphenoid mungkin tidak sempurna dan menghasilkan hanya satu rongga karena sinus sphenoid sangat dekat dengan dasar cranium, kadang-kadang proses pathologi dari cranium mengakibatkan efek pada sinus tersebut. Suatu contoh adalah demonstrasi dari suatu air fluid level di dalam sinus sphenoid yang kemudian mengakibatkan trauma tulang tengkorak. Ini mungkin membuktikan bahwa pasien mempunyai suatu fraktur dasar kepala yang disebut dengan “sphenoid effusion”.

Patologi Sinusitis
Pengertian Sinusitis
                     Sinusitis merupakan radang mukosa pada sinus paranasal. Sinusitis yang sering terjadi pada sinus maksilaris. Karena sinus maksilaris merupakan sinus terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga sekret (drainase) dari sinus maksila hanya tergantung pada gerakan silia dan dasar dari sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus olveolaris) sehingga infeksi dapat menyebabkan sinusitis maksila. (Soepardi, 2001)

Pengertian Pansinusitis
                     Pansinusitis yaitu suatu keadaan dimana terdapat perselubungan pada seluruh sinus-sinus, biasanya sering terjadi pada kasus-kasus sinusitis. (Rasad, 1992)

Jenis Sinusitis
a.    Sinusitis Akut
Sinusitis akut adalah peradangan akut mukosa pada sebagian atau seluruh sinus paranasal. Sinusitis akut dapat terjadi akibat suatu trauma misalnya pada fraktur tulang maksila dan tulang frontal, benda asing dalam hidung atau sepsis gigi (Pracy. R, 1989)
Gambaran umum dan sinusitis akut adalah penderita mula-mula mengeluh pilek, sumbatan hidung bertambah berat dan penciuman terganggu (Pracy. R, 1989)
b.    Sinusitis Kronik
Sinusitis kronik adalah proses peradangan kronis pada mukosa dan dinding tulang sinus paranasal. Faktor penyebab sinusitis kronik diantaranya adalah Pneumatisasi sinus yang tidak memadai, lingkungan kotor dan sepsis gigi (Pracy. R, 1989)

Teknik Pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal

Pengertian
                     Teknik pemeriksaan CT-Scan SPN merupakan pemeriksaan radiologi untuk mendapatkan gambaran irisan dari sinus paranasal baik secara aksial maupun coronal. CT-Scan SPN memberiakan pandangan yang memuaskan atas sinus dan dapt menilai opasitas, penyebab, dan jenis kelainan dari sinus. CT-Scan SPN baik dalam memperlihatkan dekstruksi tulang dan mempunyai peranan penting dalam perencanaan terapi serta menilai respon terhadap radioterapi. Hal-hal tersebut merupakan kelebihan CT-Scan SPN dibandingkan dengan foto polos SPN biasa.(Amstrong, 1989)

Indikasi Pemeriksaan
a.  Sinusitis
Pada kasus sinusitis, CT-Scan akan menampakkan penebalan mukosa, air-fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, dan penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik).
b.    Infeksi atau alergi
Udara dalam sinus digantikan oleh cairan/ mukosa yang menebal hebat atau kombinasi keduanya.
c.    Mukokel
Merupakan sinus yang mengalami obstruksi. CT-Scan SPN jelas memperlihatkan ukuran dan luas mukokel.
d.    Karsinoma sinus atau rongga hidung
CT-Scan SPN baik dalam menampakkan dekstruksi tulang akibat tumor, luas dan invasi tumor.
                           (Amstrong, 1989)

Prosedur Pemeriksaan
a.  Persiapan Pasien ( Seeram, 2001 )
      Persiapan pasien untuk pemeriksaan CT-Scan SPN adalah sebagai berikut :
1.    Semua benda metalik harus disingkirkan dari daerah yang diperiksa, termasuk anting, kalung, dan jepit rambut.
2.    Pasien harus diinstruksikan agar mengosongkan vesika urinarianya sebelum pemeriksaan dilakukan, karena jika menggunakan media kontras intra vena menyebabkan vesika urinaria cepat terisi penuh sehingga pemeriksaan tidak akan terganggu oleh jeda waktu ke kamar kecil.
3.    Jika menggunakan media kontras, alasan penggunaannya harus dijelaskan kepada pasien.
4.    Komunikasikan kepada pasien tentang prosedur pemeriksaan sejelas-jelasnya (inform consern) agar pasien nyaman dan mengurangi pergerakan sehingga dihasilkan kualitas gambar yang baik.

b.  Persiapan Alat dan Bahan
Alat dan bahan untuk pemeriksaan CT-Scan SPN dengan kasus sinusitis diantaranya :
      1. Pesawat CT-Scan
      2. Alat-alat fiksasi kepala
      Biasanya pemeriksaan CT-Scan SPN dengan kasus sinusitis dilakukan tanpa menggunakan media kontras. (Ballinger, 1995)

c.  Teknik Pemeriksaan
Pemeriksaan CT-Scan SPN dengan kasus sinusitis menggunakan dua jenis potongan , yaitu potongan aksial dan potongan coronal. ( Ballinger, 1995 )
1.    Potongan Aksial
a) Posisi pasien  :        pasien berbaring supine di atas meja pemeriksaan. Kedua lengan di samping tubuh, kaki lurus ke bawah dan kepala berada di atas headrest (bantalan kepala ). Posisi pasien diatur senyaman mungkin.
b) Posisi objek   :         kepala diletakkan tepat di terowongan gantry, mid sagital plane segaris tengah meja. Mid aksial kepala tepat pada sumber terowongan gantry. (Weisberg, 1984)


2.    Potongan Coronal
Potongan coronal merupakan teknik khusus.
a) Posisi pasien     :     pasien berbaring prone di atas meja pemeriksaan dengan bahu diganjal bantal. Kepala digerakkan ke belakang (hiperekstensi) sebisa mungkin dengan membidik menuju vertikal. Gantry sejajar dengan tulang-tulang wajah.
b) Posisi objek       :     kepala tegak atau digerakkan ke belakang (hiperekstensi) sebisa mungkin dan diberi alat fiksasi agar tidak bergerak. (Lowge, 1989)
d.   Scan Parameter
      Scanogram     : cranium lateral
      Slice thickness
      aksial      : 5 mm
coronal  : 3 mm ( Seeram, 2001 )     
      Range
aksial      : 5 mm di bawah sinus maksilaris sampai sinus frontalis
coronal : 5 mm posterior sinus sphenoideus sampai sinus frontalis ( Ballinger, 1995 )
      Standar algoritma
aksial      : algoritma tulang
coronal   : algoritma standar
kV                    : 130
mAs                 :  60 ( Seeram, 2001)


Pembahasan CT SPN
persiapan pasien yaitu dengan melepaskan benda-benda penyebab artefak yang ada di daerah kepala. Lalu dilanjutkan dengan memposisikan pasien sesuai dengan jenis potongan yang akan dibuat.
Pemeriksaan dengan kasus ini, dibuat dengan dua jenis potongan yaitu aksial dan coronal. Pada potongan aksial, pasien diposisikan telentang pada meja pemeriksaan dengan MSP tubuh dan kepala segaris dengan tengah meja. Kemudian dilakukan pengaturan parameter CT-Scan Sinus Paranasal yaitu dengan range sinus frontalis hingga sinus maksilaris, slice thickness sebesar 5 mm dan merotasikan gantry hingga sejajar dengan dasar palatum.
Pada potongan coronal, pasien diposisikan prone di meja pemeriksaan dengan kepala tegak dan hiperekstensi sebisa mungkin. Kemudian dilakukan pengaturan parameter CT-Scan Sinus Paranasal yaitu dengan range posterior sinus sphenoidalis hingga sinus maksilaris, slice thickness sebesar 3 mm dan merotasikan gantry hingga sejajar tulang-tulang wajah. Potongan coronal dibuat dengan tujuan agar air-fluid level tampak lebih jelas dan menampakkan osteomeatal kompleks sebagai panduan operasi sinus. Sedangkan slice thickness sebesar 3 mm dibuat agar semua potongan tiap-tiap sinus dapat tampak dan tidak terlewatkan.
Dari hasil pengamatan penulis selama praktik, pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal pada kasus pansinusitis di Divisi Radiologi Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang pada dasarnya telah sesuai dengan teori karena pada kasus ini telah menggunakan dua jenis potongan yaitu aksial dan coronal, serta dalam tata laksana pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal, petugas telah berpedoman pada prosedur tetap pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal yang sesuai dengan teori.

Saran
   Sebaiknya petugas menjelaskan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan kepada pasien secara lebih jelas, agar pasien dapat bekerjasama, sehingga akan memperlancar jalannya pemeriksaan.

No comments:

Post a Comment