Laman

Saturday, August 11, 2012

Teknik Radiografi Pengukuran Os Femoralis Metode Orthoroentgenografi (Modifikasi dengan pembatasan ukuran tulang)

Radiografi dalam memperoleh pengukuran tulang panjang, dapat memberikan kepastian yang akurat dan secara spesifik dari perbedaan diantara kedua ukuran tulang yang akan diperiksa. Terkadang pemeriksaan radiografi dalam pengukuran tulang panjang dilakukan pada bagian ekstremitas atas. Tetapi menurut frekuensinya, umumnya prosedur pemeriksaan radiografi dalam pengukuran tulangpanjang lebih seringdilakukan pada bagian lengan bawah. Metode radiografi untuk pengukuran tulang panjang harus mempertimbangkan beberapa kelompok-kelompok kecil dari aspek pengukuran yang akan dilakukan. Metode ini juga harus menggambarkan secara detail dari prosedur pengukuran tulang panjangyang berbeda untuk mendapatkan informasi yang lebih falid (jelas). (Philip W. Ballinger, 1995 : 482).


Menurut keterangan diatas, dapat kita simpulkan bahwa Metode Orthoroentgenografi adalah suatu metode radiografi untuk mengukur tulang panjang dengan menggunakan alat ukur khusus, yang nantinya akan dicetak dalam bentuk film rontgen sebagai pembantu pendiagnosaan dalam ukuran tulang.
1        Prinsip dan Tujuan Metode Orthoroentgenografi
Pada umumnya, keseluruhan pemeriksaan dalam menghasilkan gambaran radiografi akan menggunakan suatu expose dengan x-ray tunggal, akibat penggunaan x-ray tunggal, hasil dari gambaran radiografitersebut menjadi lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang diperiksa. Ini disebabkan karena photon  dan penyebaran pada tubex-ray yang diikuti dengan perjalan garis lurus yang menembus tubuh hingga film.
Gambaran yang berlebihan tersebut, dapat dikurangi dengan mengambil bagian tubuh yang akan menjadi objek sasaran dan lebih dekat dengan film, hal ini memungkinkan membuat jarak jauh lebih keatas antara x-ray dan gambar receptor (prosedur ini terkadang digunakan sebagai dasar telerontgenografi).
Prinsip dari orthoroentgenografi bertujuan karena timbulnya gangguan  ketidak mungkinan penempatan kedua sendi lutut,persis didalam kolimasi penyinaran sinar-x dan membuat satu ekspose untuk pengambilan pergelangan kaki. Walaupun pada keadaan tertentu, kita dapat melakukan satu ekspose dengan central pertengahan antara dua sendi, namun hasil dari percobaan berkas sinar-x tersebut, akan mengakibatkan  kekaburan bilateral (distorsi bilateral), dimana beberapa ukuran gambaran yang diperoleh dari os femur kanan akan lebih pendek. Hal ini, akan mengakibatkan pengukuran  panjang femur sebelah kiri akan lebih besar.
2        Manfaat Metode Orthoroentgenografi
Dari prinsip Metode Orthoroentgenografi yang telah dijelaskan, dapat kita bilah manfaat dari menggunakan Metode Orthoroentgenografi, sebagai berikut :
1.      Meniadakan efek akibat penggunaan x-ray tunggal, dengan menggunakan bagian persendian tubuh yang diperiksa saja.
2.      Dapat mengukur bagian tulang pajang, pada pemeriksaan yang tidak memungkinan penempatan kedua sendi lutut, persis didalam kolimasi penyinaran sinar-x atau membuat satu ekspose untuk pengambilan pergelangan kaki.
3.      Menghilangkan kekaburan bilateral (distorsi bilateral) pada gambaran os femur, dimana biasanya beberapa ukuran gambaran yang diperoleh dari os femur kanan akan lebih pendek.
4.      Metode ini, dapat membantu pengukuran tulang panjang tanpa menggunakan pembedahan, sehigga membantu diagnosa dari dokter spesialis bedah dan Orthopedi.

3        Posisi Pasien
1.      Tempatkan pasien pada posisi supine (terlentang) diatas meja pemeriksaan.
2.      Letakkan bagian persendian dari os femoralis yang akan di ekspose keatas kaset pada posisi antero superior.
3.      Berilah tanda sasaran atau tanda kulit (skin marking) pada batas dari pengukuran yang akan dilakukan dibagian persendian os femoralisdengan menggunakan pensil atau pulpen, setelah pasien diposisikan supine.
4.      Untuk bagian proximal femur, lakukan penadaan kulit 12 cm-15 cm kebawah dari SIAS.
4        Posisi Objek
Dalam memposisi objek pengukuran tulang panjang pada os femoralis, ada 2 lokalisasi pesendian yang akan kita ukur dan dilakukan pemotretan, yaitu :
1.      Posisi pada hip joint :
a.       2 inci medial MSP ke anterior superior iliaka spine pada pertengahan kaset.
b.      Batas atas adalah SIAS dan batas bawah 4-6 inci kebawah dari SIAS.
c.       Diupayakan tungkai dilakukan rotasi endorotasi 15-20 derajat.

2.      Posisi pada knee joint :
a.       Letakan lutut pasien diatas pertengahan kaset
b.      Atur tungkai dengan menempatkan epicondyles paralel dengan kaset.
c.       Batas bawah 2 inci kebawah dari pertengahan lutut dan batas atas 2-4 inci keatas dari pertengahan lutut.
d.      Aturlutut agar tidak mengalami rotasi.
e.       Luruskan dan renggangkan lutut pasien, sehingga knee joint bagian posterior menempel pada kaset.

5        Central Ray (CR) :
1.      Hip joint : tegak lurus terhadap kaset.
2.      Knee joint : tegak lurus terhadap kaset.
6        Central Point (CP) :
1.      Hip joint : 2,5 inci (6cm) distal dari garis lurus antara ASIS dengan sympisis pubis.
2.      Knee joint : pada pertengahan knee joint atau lutut dari pasien.
7        Kriteria Evaluasi :
1.      Padahip joint :
a.       Terlihat garis pengukuran di dalam gambaran radiopaque.
b.      Tampak femoral head masuk dalam acetabulum.
c.       Tampak Hip joint, throcanter mayor dan 1/3 proximal femur

2.      Pada knee joint :
a.       Terlihat garis pengukuran didalam gambaran radiopaque
b.      Terlihat tuberculum adductorium dan condilus lateral dan medial.
c.       Terlihat epicondilus lateral dan medial dan bagian patella.
d.      Femur bagian distal dan proximal tibia dan fibula tampak.
e.       Space femorotibial joint terbuka.
f.       Tidak terjadi rotasi ditandai dengan simetris : femur, condilus tibia dan joint space.

No comments:

Post a Comment